Saya ingin bercerita ketika masih
duduk di bangku SD, dalam pikiran saya adalah bahwa hidup itu senang-senang,
makan, tidur, dan sekolah. Tidak ada dorongan untuk meraih prestasi di masa
sekolah dasar dulu. Begitu pun ketika SMP, saya tidak lebih hanya seorang gamer
online yang setiap harinya menghabiskan uang hanya untuk bermain game. Prestasi
pun tidak punya, tidak punya motivasi keinginan untuk maju. Nasihat dari orang
tua pun tak saya hiraukan, hanya melintas tajam dari kuping kanan menuju kuping
kiri, dan sebaliknya.
Kemudian ketika mendekati masa UN,
saya bingung apa yang harus saya lakukan, saya bukan orang pandai, bukan juara
kelas yang hidupnya selalu belajar, dan saat itu hampir putus asa. Hingga suatu
saat saya pergi ke masjid, ada anak muda memanggil saya, dia mengajari saya
banyak hal, mulai dari hidup, Agama, dan lain-lain sampai saya tertarik dengan
bahasa Arab. Kemudian setelah masa UN yang berat, saya memutuskan untuk pergi
belajar bahasa Arab ke Tasikmalaya. Dan kesekian kalinya nasihat dari orang tua
tidak saya indahkan, mereka melarang saya merantau walaupun masih satu pulau,
tapi dalam benak saya, jika saya tidak merantau, maka tidak akan ada perubahan
dalam hidup saya.
Dua setengah tahun berlalu, orangtua
saya kembali meminta saya untuk tinggal di kota asal, setelah meminta pendapat
banyak orang, saya putuskan untuk kembali ke kota asal. Singkat cerita, saya
sudah bersekolah di kota asal dan bingung dalam menentukan arah hidup ke depan.
Karena pada waktu itu saya berpikir, hidup yang sukses itu adalah banyak
materi, bisa jalan-jalan keluar negeri, punya mobil sport, dan rumah yang
mewah. Dan ternyata ini adalah pemikiran yang sempit sekali. Karena hidup itu
adalah bukan tentang mendapatkan materi sebanyak-banyaknya kemudian
menikmatinya begitu saja, tapi hidup itu tentang memberikan manfaat bagi orang
lain. Bapak saya bernasihat, “jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Berguna bagi Negara dan orang banyak” . Pikiran saya terbuka dengan nasihat tadi
dan saya berpikir bahwa kepercayaan terbesar dalam hidup itu adalah kita hidup.
Mengapa? Karena Allah memberikan kepercayaan bahwa kita hidup di dunia dan bisa
memberikan manfaat bagi orang lain. Maka jagalah kepercayaan Tuhan kita,
teman-teman kita, dan kepercayaan terhadap diri sendiri.
Bapak saya juga bernasihat, “Kalau
mau sukses jangan sendiri, harus bareng-bareng. Kalau mau ke Surga jangan
sendiri, bareng-bareng juga”. Nasihat itu yang sampai saat ini saya masih
berusaha merealisasikanya dalam hidup, dan konsukwensinya kita harus membagikan
pengalaman, ilmu, kekuatan, waktu, dll. Dan ketika menjalaninya, terkadang niat
baik kita terhalang oleh prasangka buruk orang lain dan menganggap kita sebagai
orang yang sok perhatian, atau mencari perhatian. Tapi itulah kehidupan,
bagaimanapun kita, kita akan terus dikomentari. Jalanilah dengan sabar, hingga
kita bisa petik hasil manis buah kesabaran dalam menjaninya di akhir nanti.
Sekian dan terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar